RSS

Menyorong Rembulan dan Matahari Berkabut

21 Jun

Bisakah luka yang teramat dalam ini nanti akan sembuh?

Bisakah kekecewaan bahkan keputusasaan yang mengiris-iris hati berpuluh-puluh juta saudara kita ini pada akhirnya nanti akan kikis?

Adakah kemungkinan kita akan bisa merangkak naik ke bumi dari jurang yang teramat curam dan dalam?

Akankah api akan berkobar-kobar lagi?

Apakah asap akan membumbung lagi dan memenuhi angkasa tanah air?

Akankah kita semua akan bertabrakan lagi satu sama lain?

Jarah menjarah satu sama lain dengan pengorbanan yang tidak akan terkirakan?

Adakah kemungkinan kita tahu apa yang sebenarnya sedang kita jalani?

Bersediakah kita sebenarnya untuk tahu persis apa yang sesungguhnya yang kita cari?

Cakrawala yang manakah yang menjadi tujuan sebenarnya dari langkah-langkah kita?

Pernahkah kita bertanya bagaimana cara melangkah yang benar?

Pernahkah kita mencoba menyesali?

Hal-hal yang barang kali perlu disesali dari perilaku-perilaku kita yang kemarin?

Bisakah kita menumbuhkan kerendah hatian di balik kebanggaan-kebanggaan?

Masih tersediakah ruang di dalam dada kita dan akal kepala kita untuk berkata pada diri kita sendiri bahwa yang bersalah bukan hanya mereka?

Bahwa yang melakukan dosa bukan hanya ia tetapi juga kita.

Masih tersediakah peluang di dalam kerendahan hati kita untuk mencari apapun saja yang kira-kira kita perlukan meskipun barang kali menyakitkan diri kita sendiri?

Mencari hal-hal yang kita benar-benar butuhkan agar supaya sakit (3x) kita ini benar-benar sembuh total.

Sekurang-kurangnya dengan perasaan santai kepada diri sendiri untuk menyadari dengan sportif bahwa yang mesti disembuhkan itu nomer satu bukan yang diluar diri kita tetapi di dalam diri kita.

Yang kita perlu utama lakukan adalah penyembuhan diri, yang kita yakini bahwa harus betul – betul disembuhkan itu justru adalah segala sesuatu yang berlaku dalam hati dan akal fikiran kita..

Demikianlah penggalan kalimat pembuka syair Renungan Lir-ilir oleh Emha Ainun Najib. Syair yang diciptakan oleh kanjeng Sunan kalijaga, tembang lir-ilir, ya salah satu tembang yang populer dikalangan orang Jawa. Seharusnya kita menyadari mengenai tembang tersebut, mengenai makna yang tersirat dalam syair itu.

Saya ingin mengajak engkau semua untuk memasuki dalam dunia ilir-ilir

Lir ilir tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh temanten anyar
Bocah angon bocah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodot-iro
Dodot-iro dodot-iro lumintir bedah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung jembar kalangane
Mumpung padang rembulane
Yo surako
Surak: iyooo!

repost dari: http://blog.krakenstein.net/buzz/119-menyorong-rembulan-dan-matahari-berkabut-emha-ainun-najib.html

 
2 Comments

Posted by on 21 June 2011 in Grab, Hikmah, Islamic, Puisi, Renungan, Song

 

2 responses to “Menyorong Rembulan dan Matahari Berkabut

  1. bangruz

    27 June 2011 at 12:58 am

    maksudY apa ni ya?muhasabah kah?

     
  2. muqaffa

    27 June 2011 at 8:29 pm

    yap,, muhasabah, bangruz… muhasabah bagi bangsa ini dan seluruh penghuninya…

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: