RSS

ALASAN dan TINGKATAN IBADAH kepada ALLAH

07 Jun

BAB I

PENDAHULUAN

Alhamdulillah, seluruh pujian hanya untuk-Nya, Pemilik dua alam, Penguasa bumi dan langit, timur hingga barat, tempat bergantung segala urusan. Sholawat serta salam semoga tetap tercurah atas Baginda Rasul Al-Amin, Sayyidina Muhammad SAW.

Ibadah, dalam berbagai agama di dunia ini termasuk hal yang sudah menjadi kewajiban bahkan kebutuhan. Dalam Islam, ibadah merupakan sarana untuk berkomunikasi ‘vertikal’ dengan Allah SWT. Melalui ibadah, kita membutuhkan keikhlasan dan kepasrahan secara utuh dan menyeluruh. Dengan keikhlasan dalam beribadah itulah Allah menilai keimanan dan ketaqwaan kita, yang mana ketaqwaan inilah sebagai parameter derajat kita di sisi Allah.

Ibadah tidak hanya berfungsi sebagai hubungan hamba dengan Pencipta, akan tetapi juga dapat berfungsi sebagai kontrol sosial. Hal ini tentunya dapat dibuktikan apabila sholat –sebagai ibadah pokok– seseorang baik, maka akhlaknya juga baik, begitu juga sebaliknya.

Banyak motivasi seseorang melakukan ibadah. Di antara motivasi-motivasi itu, bagi umat Islam, paling tidak ada beberapa alasan yang mendasari kita beribadah. Alasan-alasan ini didasarkan pada ayat-ayat Al-Quran sebagai sumber hukum pertama Islam. Alasan-alasan ini hendaknya menjadi motivasi tersendiri agar kita terus meningkatkan kualitas ibadah kita kepada Allah SWT.

Sesungguhnya tidak ada yang menguasai diri kita kecuali Allah SWT. Allah-lah Yang Maha Menguasai setiap inchi kehidupan. Tiada yang luput dari pengawasan-Nya. Maka, hendaklah setiap perbuatan kita adalah demi mengharapkan ridho-Nya.

BAB II

ALASAN IBADAH dan

TINGKATAN IBADAH kepada ALLAH

”Dan beribadahlah kepada Rabb-mu sampai datang kepadamu keyakinan (mati)”

Firman Allah dalam Surat Al-Hijr ayat 99 tersebut maksudnya adalah istiqamah atau disiplin dalam beribadah selama hidup. Ibadah merupakan satu tugas pokok bagi manusia dan jin, karena kejadiannya berhubungan dengan rububiyah (ketuhanan) Allah dalam pengaturan alam semesta dan khaliqiyah (ketuhanan Allah dalam ciptaan-Nya). Allah mempertegas kejadian jin dan manusia dalam Al-Quran surat adz-Dzariyat : 56

”Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”

Setidaknya, ada 6 alasan mengapa kita harus beribadah kepada Allah SWT, antara lain :

  1. Kita, manusia, memang diciptakan untuk ibadah, sebagaimana firman Allah di atas.
  2. Ibadah sebagai tanda syukur atas diciptakannya kita oleh Allah, sebagaimana firman-Nya :

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim : 7)

  1. Konsekuensi janji kita kepada Allah SWT.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (QS Al-A’raaf : 172)

  1. Ibadah merupakan tugas yang harus ditanamkan oleh setiap Rasul kepada umatnya.

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS An-Nahl : 36)

  1. Allah satu-satunya yang tepat untuk disembah karena Dia Mahakuasa.

Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. (QS At-Thalaq : 17)

  1. Adanya azab-azab di akhirat bagi orang-orang yang tidak mengabdi kepada-Nya.

Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku.” (QS Al-An’am : 15)

Ibadah yang diajarkan Islam adalah ibadah yang melingkupi seluruh aspek kehidupan dan bersifat umum, baik ibadah mahdhah seperti ibadah-ibadah wajib, sholat, zakat, puasa dan haji, maupun ghairu mahdhah sesuai dengan intelegensi manusia yang bertingkat-tingkat, demikian juga potensinya.

Tingkatan ibadah dapat dibagi tiga tingkat, yaitu :

  1. 1. Tingkat yang diberi istilah ”ibadah”
  • Ibadahnya orang awam, yaitu umumnya kaum muslimin.
  • Ilmunya baru ’ilmu al yaqin (ilmu keyakinan).
  • Melaksanakan ibadah hanya karena kewajiban.
  • Ibadahnya insidentil, temporer.
  • Ibadahnya pada tingkat mujahadah (optimalisasi).
  • Jiwanya tidak pernah mengeluh kepada Allah (Ridha).
  1. 2. Tingkat yang diberi istilah ”ubudiyah”
  • Ibadahnya golongan pilihan (khawash).
  • Ilmunya sudah mencapai ’ainu al yaqin.
  • Pelaksanaan ibadahnya merupakan kebutuhan yang tidak dapat terpisah dari dirinya setiap saat.
  • Ibadahnya pada setiap saat, situasi dan kondisi tidak dipengaruhi lagi oleh situasi dan kondisi.
  • Ibadahnya pada tingkat mukabilah (menanggung kesulitan). Artinya dalam keadaan sulitpun tetap konsisten beribadah.
  • Jiwanya dermawan kepada Allah dan dampaknya kelihatan dalam hubungan sosialnya yang senantiasa berusaha menggembirakan orang lain.

’Ubudiyah berarti menggantikan sesuatu dengan yang lain secara total. Jalan untuk mencapai itu adalah :

  • Mencegah agar nafsu tidak terjerat dengan apa-apa yang diinginkannya.
  • Bertahan dengan kondisi yang tidak disukai (al ridha)

Kunci menuju hal itu ialah :

  • Meninggalkan bersantai-santai.
  • Senantiasa berkhalwat (berdua-duaan dengan Allah SWT).
  • Mengetahui hakikat kefakiran kepada Allah.
  1. 3. Tingkat yang diberi istilah ’abuda atau ”mulika”
  • Ibadahnya golongan yang sangat terpilih (khawas al khawas).
  • Ilmunya sudah mencapai haqqu al yaqin.
  • Ibadahnya berada pada tingkat kenikmatan.
  • Ibadahnya sudah tenggelam dalam lautan Rububiyah dan Uluhiyah.
  • Sifatnya sudah mencapai derajat dan maqam ahli musyahadah (menyaksikan Allah) atau mukasyafah (terbuka tabir antara dirinya dengan Allah).
  • Ruhnya senantiasa bertengger pada amar (perintah) dan nahi (larangan) Allah SWT, yaitu tenggelam dalam perintah dan larangan Allah SWT dalam kehidupannya setiap saat dan di mana saja.

Ketiga tingkatan ini baru sekedar perbandingan sederhana. Masih banyak indikator-indikator yang dapat kita temukan jika diperhalus lagi, perbedaan antara tiga tingkatan itu. Dengan gambaran sederhana ini, kita dapat membedakan ketiga tingkatan ini dan jika kita merenung, kita bisa menentukan pada tingkat mana ibadah kita.

BAB III

KESIMPULAN

Tidak pernah ada alasan untuk tidak beribadah kepada Allah SWT karena Allah telah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah. Alasan-alasan untuk beribadah antara lain : sebagai rasa syukur kita kepada Allah atas segala kasih sayang-Nya, konsistensi janji kita kepada Allah, dan sebagainya.

Dalam ibadah, setiap manusia berbeda-beda tingkatan atau derajatnya. Perbedaan ini setidaknya dapat dilihat dari indikator-indikator yang ditunjukkan oleh orang tersebut. Indikator-indikator ini dapat dilihat dari tata cara orang beribadah, berperilaku sehari-hari, dll.

Tingkatan ibadah di sini dijelaskan ada tiga : Ibadah, Ubudiyah dan Mulika. Tingkatan terendah namun banyak orang mencapainya adalah Ibadah. Pada tingkatan ini, seseorang beribadah hanya sebagai kewajiban, sehingga bersifat temporer. Lebih tinggi lagi tingkatannya adalah Ubudiyah. Ketika seseorang mencapai tingkatan ini, ibadahnya tidak lagi hanya sebagai kewajiban, akan tetapi lebih pada kebutuhan yang tak dapat dipisahkan. Hal ini membuat orang tersebut beribadah di mana saja dan dalam keadaan apa saja. Tingkatan ketiga, tingkatan tertinggi, hanya dimiliki oleh orang-orang yang sangat khusus. Ibadah pada tingkatan ketiga ini sudah bersifat sebagai kenikmatan. Tidak ada rasa khawatir ketika beribadah, semuanya tulus dan ikhlas.

Subhaanaka Allaahumma wa bihamdika, asyhadu an laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik…

Daftar Pustaka

Al-Quran Al-Karim.

Adam, Muchtar, KH., dan Fadlullah Muh. Said. 2007. Ma’rifatullah, Membangun Kecerdasan, Sosial, dan Akhlak Karimah. Sulawesi Selatan : Usaha Dakwah Islamiyah Silaturrahim Indonesia.

Tim PPK F. Saintek. 2009. Buku Panduan Peserta PPK. Yogyakarta.

 
2 Comments

Posted by on 7 June 2009 in Artikel, Islamic, Makalah, Tugas Kuliah

 

2 responses to “ALASAN dan TINGKATAN IBADAH kepada ALLAH

  1. sudarmin

    19 January 2012 at 8:27 pm

    trmks sgt berarti buat saya insya ALLAH MANFAAT

     
  2. ganda.suganda45@yahoo.co.id

    16 August 2013 at 12:21 am

    alhamdulillah sekarang saya sudah mengerti bahwa ibadah itu ada tingkatanya,tergantug pada diri kita masing masing termasuk manakah di antara ke tiga tingkatan ibadah tersebut tadi,memang setiap manusia mempunyai tingkatan ibadah dengan kemampuannya masing-masing itu sudah di ciptakan oleh ALLAH sedemikian rupa,mungkin dengan izin ALLAH segalanya bisa tercapai pada tingkat yang lebih tinggi kita manusia yang lemah hanya ALLAH yang sudah menentukan takdir pada diri seorang hamba,baik para nabi,rosul,wali,ulama,awam,yang penting seorang hamba harus menerimanya, karena DIA MAHA KUASA SEGALA SESUATU yang dikehendakiNYA.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: