ALASAN dan TINGKATAN IBADAH kepada ALLAH

BAB I

PENDAHULUAN

Alhamdulillah, seluruh pujian hanya untuk-Nya, Pemilik dua alam, Penguasa bumi dan langit, timur hingga barat, tempat bergantung segala urusan. Sholawat serta salam semoga tetap tercurah atas Baginda Rasul Al-Amin, Sayyidina Muhammad SAW.

Ibadah, dalam berbagai agama di dunia ini termasuk hal yang sudah menjadi kewajiban bahkan kebutuhan. Dalam Islam, ibadah merupakan sarana untuk berkomunikasi ‘vertikal’ dengan Allah SWT. Melalui ibadah, kita membutuhkan keikhlasan dan kepasrahan secara utuh dan menyeluruh. Dengan keikhlasan dalam beribadah itulah Allah menilai keimanan dan ketaqwaan kita, yang mana ketaqwaan inilah sebagai parameter derajat kita di sisi Allah.

Ibadah tidak hanya berfungsi sebagai hubungan hamba dengan Pencipta, akan tetapi juga dapat berfungsi sebagai kontrol sosial. Hal ini tentunya dapat dibuktikan apabila sholat –sebagai ibadah pokok– seseorang baik, maka akhlaknya juga baik, begitu juga sebaliknya.

Banyak motivasi seseorang melakukan ibadah. Di antara motivasi-motivasi itu, bagi umat Islam, paling tidak ada beberapa alasan yang mendasari kita beribadah. Alasan-alasan ini didasarkan pada ayat-ayat Al-Quran sebagai sumber hukum pertama Islam. Alasan-alasan ini hendaknya menjadi motivasi tersendiri agar kita terus meningkatkan kualitas ibadah kita kepada Allah SWT.

Sesungguhnya tidak ada yang menguasai diri kita kecuali Allah SWT. Allah-lah Yang Maha Menguasai setiap inchi kehidupan. Tiada yang luput dari pengawasan-Nya. Maka, hendaklah setiap perbuatan kita adalah demi mengharapkan ridho-Nya.

BAB II

ALASAN IBADAH dan

TINGKATAN IBADAH kepada ALLAH

”Dan beribadahlah kepada Rabb-mu sampai datang kepadamu keyakinan (mati)”

Firman Allah dalam Surat Al-Hijr ayat 99 tersebut maksudnya adalah istiqamah atau disiplin dalam beribadah selama hidup. Ibadah merupakan satu tugas pokok bagi manusia dan jin, karena kejadiannya berhubungan dengan rububiyah (ketuhanan) Allah dalam pengaturan alam semesta dan khaliqiyah (ketuhanan Allah dalam ciptaan-Nya). Allah mempertegas kejadian jin dan manusia dalam Al-Quran surat adz-Dzariyat : 56

”Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”

Setidaknya, ada 6 alasan mengapa kita harus beribadah kepada Allah SWT, antara lain :

  1. Kita, manusia, memang diciptakan untuk ibadah, sebagaimana firman Allah di atas.
  2. Ibadah sebagai tanda syukur atas diciptakannya kita oleh Allah, sebagaimana firman-Nya :

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim : 7)

  1. Konsekuensi janji kita kepada Allah SWT.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (QS Al-A’raaf : 172)

  1. Ibadah merupakan tugas yang harus ditanamkan oleh setiap Rasul kepada umatnya.

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS An-Nahl : 36)

  1. Allah satu-satunya yang tepat untuk disembah karena Dia Mahakuasa.

Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. (QS At-Thalaq : 17)

  1. Adanya azab-azab di akhirat bagi orang-orang yang tidak mengabdi kepada-Nya.

Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku.” (QS Al-An’am : 15)

Ibadah yang diajarkan Islam adalah ibadah yang melingkupi seluruh aspek kehidupan dan bersifat umum, baik ibadah mahdhah seperti ibadah-ibadah wajib, sholat, zakat, puasa dan haji, maupun ghairu mahdhah sesuai dengan intelegensi manusia yang bertingkat-tingkat, demikian juga potensinya.

Tingkatan ibadah dapat dibagi tiga tingkat, yaitu :

  1. 1. Tingkat yang diberi istilah ”ibadah”
  • Ibadahnya orang awam, yaitu umumnya kaum muslimin.
  • Ilmunya baru ’ilmu al yaqin (ilmu keyakinan).
  • Melaksanakan ibadah hanya karena kewajiban.
  • Ibadahnya insidentil, temporer.
  • Ibadahnya pada tingkat mujahadah (optimalisasi).
  • Jiwanya tidak pernah mengeluh kepada Allah (Ridha).
  1. 2. Tingkat yang diberi istilah ”ubudiyah”
  • Ibadahnya golongan pilihan (khawash).
  • Ilmunya sudah mencapai ’ainu al yaqin.
  • Pelaksanaan ibadahnya merupakan kebutuhan yang tidak dapat terpisah dari dirinya setiap saat.
  • Ibadahnya pada setiap saat, situasi dan kondisi tidak dipengaruhi lagi oleh situasi dan kondisi.
  • Ibadahnya pada tingkat mukabilah (menanggung kesulitan). Artinya dalam keadaan sulitpun tetap konsisten beribadah.
  • Jiwanya dermawan kepada Allah dan dampaknya kelihatan dalam hubungan sosialnya yang senantiasa berusaha menggembirakan orang lain.

’Ubudiyah berarti menggantikan sesuatu dengan yang lain secara total. Jalan untuk mencapai itu adalah :

  • Mencegah agar nafsu tidak terjerat dengan apa-apa yang diinginkannya.
  • Bertahan dengan kondisi yang tidak disukai (al ridha)

Kunci menuju hal itu ialah :

  • Meninggalkan bersantai-santai.
  • Senantiasa berkhalwat (berdua-duaan dengan Allah SWT).
  • Mengetahui hakikat kefakiran kepada Allah.
  1. 3. Tingkat yang diberi istilah ’abuda atau ”mulika”
  • Ibadahnya golongan yang sangat terpilih (khawas al khawas).
  • Ilmunya sudah mencapai haqqu al yaqin.
  • Ibadahnya berada pada tingkat kenikmatan.
  • Ibadahnya sudah tenggelam dalam lautan Rububiyah dan Uluhiyah.
  • Sifatnya sudah mencapai derajat dan maqam ahli musyahadah (menyaksikan Allah) atau mukasyafah (terbuka tabir antara dirinya dengan Allah).
  • Ruhnya senantiasa bertengger pada amar (perintah) dan nahi (larangan) Allah SWT, yaitu tenggelam dalam perintah dan larangan Allah SWT dalam kehidupannya setiap saat dan di mana saja.

Ketiga tingkatan ini baru sekedar perbandingan sederhana. Masih banyak indikator-indikator yang dapat kita temukan jika diperhalus lagi, perbedaan antara tiga tingkatan itu. Dengan gambaran sederhana ini, kita dapat membedakan ketiga tingkatan ini dan jika kita merenung, kita bisa menentukan pada tingkat mana ibadah kita.

BAB III

KESIMPULAN

Tidak pernah ada alasan untuk tidak beribadah kepada Allah SWT karena Allah telah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah. Alasan-alasan untuk beribadah antara lain : sebagai rasa syukur kita kepada Allah atas segala kasih sayang-Nya, konsistensi janji kita kepada Allah, dan sebagainya.

Dalam ibadah, setiap manusia berbeda-beda tingkatan atau derajatnya. Perbedaan ini setidaknya dapat dilihat dari indikator-indikator yang ditunjukkan oleh orang tersebut. Indikator-indikator ini dapat dilihat dari tata cara orang beribadah, berperilaku sehari-hari, dll.

Tingkatan ibadah di sini dijelaskan ada tiga : Ibadah, Ubudiyah dan Mulika. Tingkatan terendah namun banyak orang mencapainya adalah Ibadah. Pada tingkatan ini, seseorang beribadah hanya sebagai kewajiban, sehingga bersifat temporer. Lebih tinggi lagi tingkatannya adalah Ubudiyah. Ketika seseorang mencapai tingkatan ini, ibadahnya tidak lagi hanya sebagai kewajiban, akan tetapi lebih pada kebutuhan yang tak dapat dipisahkan. Hal ini membuat orang tersebut beribadah di mana saja dan dalam keadaan apa saja. Tingkatan ketiga, tingkatan tertinggi, hanya dimiliki oleh orang-orang yang sangat khusus. Ibadah pada tingkatan ketiga ini sudah bersifat sebagai kenikmatan. Tidak ada rasa khawatir ketika beribadah, semuanya tulus dan ikhlas.

Subhaanaka Allaahumma wa bihamdika, asyhadu an laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik…

Daftar Pustaka

Al-Quran Al-Karim.

Adam, Muchtar, KH., dan Fadlullah Muh. Said. 2007. Ma’rifatullah, Membangun Kecerdasan, Sosial, dan Akhlak Karimah. Sulawesi Selatan : Usaha Dakwah Islamiyah Silaturrahim Indonesia.

Tim PPK F. Saintek. 2009. Buku Panduan Peserta PPK. Yogyakarta.

Diam

Diam adalah tempat di mana segala sesuatu aku bicarakan.
Diam adalah saat ketika nafasku bertambah cepat, makin lambat atau bahkan berhenti.
Diam menjadi pusat percabangan berbagai aliran listrik di otakku.

Diam… Kebisuan seribu kata sarat makna…

Khutbah Terakhir Baginda

(Lembah Uranah, Arafat, 9 Dzulhijjah, 10 H)
 
 
 Wahai manusia, dengarkanlah dengan sungguh-sungguh,
 karena aku tidak tahu
 apakah setelah tahun ini, aku masih akan berada di
 antara kalian. Karena itu
 dengarkanlah dengan seksama apa yang akan
 kusampaikan, dan sampaikan
 kata-kata ini kepada orang-orang yang tidak dapat
 hadir di sini hari ini.
 
 Wahai manusia, sama seperti kamu menganggap bulan
 ini, hari ini, dan tempat
 ini sebagai suci, perlakukanlah hidup dan harta
 setiap muslim sebagai hal
 yang suci. Kembalikanlah barang yang dipercayakan
 padamu kepada pemiliknya
 yang sah. Jangan sakiti seseorang sehingga tidak ada
 yang akan menyakitimu.
 Ingatlah bahwa sesungguhnya kamu akan bertemu
 Tuhanmu, dan bahwa DIA akan
 benar-benar menghitung amal ibadahmu. ALLAH telah
 melarang kamu mengambil
 riba (bunga uang) dan karena itu sejak saat ini
 semua kewajiban bunga uang
 harus dihapuskan. Tetapi, modal pokokmu adalah
 milikmu yang boleh engkau
 simpan. Janganlah kamu menyebabkan atau menderita
 karena ketidakadilan.
 ALLAH telah memutuskan bahwa tidak ada bunga uang
 dan bahwa semua bunga uang
 yang terhutang dari Abbas Ibn' Abdul Muthalib sejak
 saat ini harus
 dihapuskan. Setiap hak yang timbul dari pembunuhan
 dalam masa pra-Islam
 hapus sejak saat ini dan hak pertama yang aku
 hapuskan adalah yang berasal
 dari pembunuhan Rabiah ibn Al-Haritibn.
 
 Wahai manusia, tidak beriman orang-orang yang
 mempermainkan aturan untuk
 menghalalkan yang telah dilarang oleh ALLAH, dan
 untuk melarang yang sudah
 diizinkan ALLAH. Dengan nama ALLAH, terdapat dua
 belas bulan (dalam
 setahun). Empat diantaranya suci. Tiga dari empat
 bulan ini berturut-turut,
 dan satu terletak diantara bulan Jumada dan Sha'ban.
 
 Hati-hatilah terhadap setan demi keselamatan
 agamamu. Dia telah kehilangan
 semua harapan untuk dapat menjerumuskanmu dalam
 kesalahan-kesalahan yang
 besar, karena itu hati-hatilah agar tidak
 mengikutinya dalam hal-hal kecil.
 
 Wahai manusia, benar bahwa kamu memiliki hak-hak
 tertentu atas
 wanita-wanitamu, tetapi mereka juga punya hak-hak
 atas engkau. Ingatlah
 bahwa kamu mengambil mereka sebagai istrimu hanya
 dengan kepercayaan ALLAH
 dan dengan izinNYA. Jika mereka mematuhi hak-hakmu
 maka mereka berhak atas
 makanan dan pakaian yang diberikan dengan kebaikan.
 Perlakukanlah
 wanita-wanitamu dengan hormat dan baik karena mereka
 adalah pasangan dan
 penolongmu yang setia. Dan menjadi hakmu untuk
 menentukan agar mereka tidak
 berkawan dengan orang-orang yang tidak engkau
 setujui, dan agar mereka tidak
 menjadi nakal.
 
 
 Wahai manusia, dengarkan aku dengan sungguh-sungguh,
 beribadahlah kepada
 ALLAH, shalatlah lima waktu dalam sehari, puasalah
 dalam bulan Ramadhan, dan
 berikanlah hartamu dalam bentuk zakat. Kerjakan haji
 jika kamu mampu. Semua
 manusia berasal dari Adam dan Hawa, seorang Arab
 tidak memiliki kelebihan
 diatas non-Arab, dan seorang non-Arab tidak memiliki
 kelebihan diatas Arab;
 juga seorang putih tidak memiliki kelebihan diatas
 seorang hitam, tidak juga
 seorang hitam memiliki kelebihan atas orang putih,
 kecuali dalam ketakwaan
 dan ibadahnya. Camkanlah bahwa setiap muslim adalah
 saudara bagi setiap
 muslim dan bahwa umat Islam merupakan suatu
 persaudaraan. Tidak boleh harta
 seorang muslim menjadi hak seorang muslim lain
 kecuali jika sudah diberikan
 secara suka rela dan ikhlas. Karena itu, jangan
 lakukan perbuatan tidak adil
 pada dirimu sendiri.
 
 Ingatlah, suatu hari kamu akan berhadapan dengan
 ALLAH dan
 mempertanggungjawabkan tindakan-tindakanmu. Karena
 itu, berhati-hatilah,
 jangan keluar dari jalan kebenaran setelah aku
 tiada.
 
 Wahai manusia, tidak ada nabi atau rasul yang akan
 datang sesudahku dan
 tidak ada agama baru yang akan lahir. Karena itu,
 wahai manusia, berpikirlah
 dengan baik dan pahamilah kata-kata yang kusampaikan
 kepadamu. Aku
 tinggalkan dua hal: Al Quran dan Sunnah,
 contoh-contoh dariku; dan jika kamu
 ikuti keduanya kamu tidak akan pernah tersesat.
 
 Semua yang mendengarku harus menyampaikan
 kata-kataku kepada yang lain, dan
 orang-orang tersebut kepada yang lainnya lagi; dan
 semoga orang terakhir
 yang mendengarnya memahami kata-kataku lebih baik
 daripada yang mendengar
 dariku secara langsung. Ya ALLAH, jadilah saksiku
 bahwa aku telah
 menyampaikan pesanMU kepada hambaMU.

Maulid Nabi

Alam bersinar-sinar bersuka ria

menyambut kelahiran Al-Mushthafa Ahmad

riang gembira meliputi penghuninya

sambung-menyambung tiada hentinya

Bergembiralah, wahai pengikut Al-Quran

burung-burung kemujuran kini berkicauan

bersuluhlah dengan sinar keindahan

mengungguli semua yang indah tiada bandingan

Kini wajiblah bersuka cita

dengan keberuntungan terus-menerus tiada habisnya

manakala kita beroleh anugerah

padanya terpadu kebanggaan abadi

Bagi Tuhan segala puji

tiada bilangan mampu mencakupnya

atas penghormatan dilimpahkan-Nya bagi kita

dengan lahirnya Al-Mushthafa Al-Hadi Muhammad

Ya Rasulullah,

selamat datang, ahlan wa sahlan

Sungguh kami beruntung dengan kehadiranmu

Ya Ilahi, ya Tuhan kami

semoga Kau berkenan memberi nikmat karunia-Mu

menyampaikan kami ke tujuan idaman

demi ketinggian derajat Rasul di sisi-Mu

Tunjukilah kami jalan yang ia tempuh

agar dengannya kami bahagia beroleh kebaikan

melimpah

Rabbi, demi mulia kedudukannya di sisi-Mu

tempatkanlah kami di sebaik tempat di sisinya

Semoga shalawat Allah meliputi selalu

rasul termulia, Muhammad

serta salam terus-menerus

silih berganti setiap saat…

sumber: Terjemah Maulid Simthudduror

Kebahagiaan

underw1

Kebahagiaan adalah suatu tingkatan keadaan dimana perasaan, pikiran dan tingkah laku sudah mencapai ketenangan, keseimbangan dan kepuasan atau sudah merasa cukup dengan keadaan dirinya.

Kebahagiaan adalah ketika ketika keinginan dan harapan menjadi nyata, tepatnya sesaat sebelum meningkat kepada ambisi dan haus dunia.

Kebahagiaan adalah Bilal bin Rabah, yang rela kesakitan demi menggumamkan ‘Ahad…’

Kebahagiaan adalah kesadaran akan keberadaan-Nya.

Kebahagiaan adalah apabila masih bisa bersyukur atas apapun yang diberi-Nya, dan memanfaatkannya di jalan-Nya.

Kebahagiaan adalah senyuman yang disapakan kepada semua.

Kebahagiaan adalah selama menyaksikan ibu-bapak tersenyum.

Kebahagiaan adalah ketika ketaatan mampu mengalahkan godaan.